MLM Itu Bisnis Paling Menjijikkan, Betulkah?

MLM Itu Bisnis Paling Menjijikkan, Betulkah?

Kali ini saya ingin memaksa anda memasang mata terhadap fenomena pemasaran jaringan yang biasa disebut MLM. Saya mengakui bahwa saya juga pernah menjadi penggiat bisnis Multi Level Marketing selama 3 tahun dan dari sini saya banyak belajar membentuk Mental, Leadership dan Kemampuan Public Speaking saya. Namun demikian, bukan rahasia lagi kalau di mata masyarakat kita, MLM menyandang image yang negatif. Sehingga pantang dibahas oleh marketer manapun.

Kenapa bisa seperti itu? Pertama, karakter segelintir penggiat MLM yang sering menguber-uber dan mengumbar-umbar janji kepada calon downline. Kedua, praktik money game yang mengatasnamakan Multi Level Marketing. Padahal praktik money game itu sendiri jelas-jelas illegal. Jika anda ingin mengecek mana Perusahaan MLM dan yang mana money game, anda bisa melakukan pengecekan di APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia).

Akan tetapi, betulkah MLM senista itu?

Salah! Salah besar! Justru di Negara maju seperti Amerika dan Jepang, MLM mengalir dan bergulir dengan derasnya. Di Negara asal Microsoft, MLM tumbuh hamper 250 persen selama satu dekade terakhir. Bahkan di Negara asal Matsushita, MLM membukukan total omzet tertinggi di dunia melampaui Amerika. Keren kan?

Bahkan Singapura dan China yang dulunya menutup diri, beberapa tahun belakangan mulai membuka diri terhadap MLM. Diprediksi, semenjak tahun 2003 setiap tahunnya MLM mencatat penjualan ritel tidak kurang dari 100 Miliar dolar di seluruh dunia. Nah, faktor apakah yang memicu dan memacu orang-orang di Amerika, Jepang dan Negara lainnya mencemplungkan diri dalam MLM? Tidak usah menebaknya. Uang!

Percayalah, bidang apapun bila ditongkrongin terus-menerus akan menghasilkan uang yang lumayan, baik dengan karier, wiraswasta, investasi, ataupun MLM. Hoki itu tidak pernah pilih kasih. Ianya bisa hinggap dimana saja, tidak terkecuali di MLM. Itu hanya masalah pilihan. Walaupun, Robert Kiyokasi terang-terangan ‘menghasut’ kita untuk berwiraswasta, berinvestasi, ataupun MLM. Bukan dengan berkarier. Yah, demi kebebasan finansial, katanya.

Berapa besar sih pendapatan seorang penggiat MLM?

Sebagai gambaran kasar saja, seorang penggiat MLM yang yakin (bukan sekedar ingin) dan cerdik (bukan sekedar gigih) dalam waktu dua tahun bisa mengantongi bonus bulanan yang sama digitnya dengan gaji manajer dari perusahaan besar. Dan sesuai pengalaman saya, tidak sedikit orang Indonesia yang membuktikannya.

Namun demikian, lihatlah penggiat MLM di sekitar kita! Mengapa lebih dari 95 persen dari mereka terjungkal bahkan terpental? Penyebab utamanya, mayoritas dari mereka menganggap MLM tidak lebih dari sekedar usaha sampingan. Akhirnya, apa yang mereka di rekening tabungan mereka juga pendapatan sampingan, yang nilainya –maaf- hanya puluhan atau ratusan ribu perbulan. Dan ditengah masyarakat, jadilah mereka orang sampingan pula. Tepatnya, orang pinggiran.

Padahal sudah menjadi hukum alam, jika anda ingin berhasil, baik dalam karier,wiraswasta, ataupun investasi, anda harus bersungguh-sungguh. Tidak terkecuali dalam MLM. Oleh karena itu, jangan perlakukan MLM sebagai kegiatan iseng iseng belaka. Ini bukan berarti anda mesti mencampakkan kerja atau bisnis utama anda! Sama sekali tidak!

Seperti nasehat Robert Kiyosaki, pertahankan aktivitas siang hari anda! Apa yang ingin digaris bawahi disini ialah MLM membutuhkan kesungguhan sejati persis seperti kesungguhan yang anda dedikasi pada karier atau bisnis anda selama ini! Tidak lebih, tidak kurang!

Selain uang, MLM juga menyimpan manfaat lainnya, yang bahkan dinilai lebih berharga daripada uang. Apa itu? Jaringan. Entah kebetulan atau tidak, MLM juga sering dilabel dengan network marketing. Dalam waktu tiga bulan saja, seorang penggiat MLM bisa berkenalan dan tetap berkenalan dengan minimal 50 orang.

Kurang dari satu tahun, jumlahnya mungkin menanjak dan melonjak sampai 2000 orang. Dengan berjalannya waktu, angka tersebut akan bertambah dan terus bertambah dengan kecepatan eksponensial. Secepat ketukan musiknya Black Sabbath.

Menariknya, walau sebelumnya anda tidak mengenal mereka, namun kini mereka –atas nama upline dan downline-menjadi jaringan anda,menjadi  relasi anda. Maka, tanpa diminta sekalipun, mereka akan siap mengulurkan bantuan, baik untuk kepentingan MLM ataupun keperluan lainnya. Selagi anda masih mengais-ngais rezeki di negeri ini.

Tentu anda sadar betul betapa mendesaknya sebuah jaringan. Apalagi untuk tujuan kekayann. Hm, kurang yakin? Sekali lagi, dengarlah petuah Robert Kiyosaki, “Orang-orang terkaya di dunia mencari atau membangun jaringan, orang lain mencari pekerjaan, ”Yap, mematuhi Hukum Metcalf sepenuhnya.

Sedangkan manfaat MLM lainnya yang melebihi uang adalah pengembangan diri. Pertemuan demi petemuan yang anda jalani, baik dengan calon downline maupun jaringan, secara otomatis akan mengasah communication skill anda. Lebih jauh, ketika anda memotivasi dan melatih para downline, maka tanpa disadari sebenarnya anda telah memupuk leadhership skill untuk diri anda sendiri. Pasti itu!

Dan cepat atau lambat para downline akan menduplikasi anda. Jadi, seiiring keterampilan dan kepribadian anda terbentuk, maka keterampilan dan kepribadian orang-orang disekitar anda juga ikut terbentuk. Apalagi didukung oleh support system yang kondusif. Dan inilah dalil nomor 1 mengapa akhirnya Robert Kiyosaki terkuak pikirannya dan melaliu buku-bukunya mendorong orang-orang seantero bumi bercengkrama dengan MLM.

Tak pelak lagi, uang, jaringan, dan pengembangan pribadi menjadi tiga daya pikat utama MLM. Pantaslah apabila Dahlia Herlina mendefinisikan MLM sebagai Meet, Learn, and Multiply (Berjumpa, belajar dan melipatgandakan, dimana ketiga kata tersebut diulas dan dikupas tuntas oleh pakar MLM Andrias Harefa dalam karya-karyanya.

Semoga Bermanfaat

Miliki segera website Sendiri untuk Perusahaan, Bisnis, Sekolah, Kampus, Yayasan, Instansi, atau Organisasi anda dan dapatkan Konsultasi Gratis seputar pengembangan Usaha anda melalui Pemasaran Online. Hubungi kami di sini 0811-419-7577 atau Klik di sini.